Jumat, 13 November 2009
Diposting oleh Moch. Aji 2 komentar
Rabu, 04 November 2009

Menurut Pak Bambang S Tedjasukmana dari Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), bahwa fenomena yang akan muncul pada sekitar tahun 2011-2012 adalah badai Matahari. Prediksi ini berdasar pada pemantauan pusat pemantau cuaca antariksa di berbagai negara maju yang sudah dilakukan sejak tahun 1960-an dan Indonesia oleh LAPAN telah dilakukan sejak tahun 1975.
Badai Matahari = Flare dan CME
Masih menurut ahli lain dari LAPAN, bahwa badai Matahari akan terjadi ketika adanya flare dan Corona Mass Ejection (CME). Apa itu Flare..? Flare adalah ledakan besar di atmosfer Matahari yang dahsyatnya menyamai 66 juta kali ledakan bom atom Hiroshima. Padahal bom atom yang dijatuhkan Paul Tibbets, pilot pesawat Amerika Serikat (AS), B-29 Enola Gay, Agustus 1945, telah merenggut sekitar 80.000 jiwa manusia. Berarti kalau dikalikan 66 juta lagi, wouw…! Sedang CME adalah sejenis ledakan sangat besar yang menyebabkan lontaran partikel2 berkecepatan tinggi yakni sekitar 400 km/detik. wouw… Gangguan cuaca Matahari ini dapat mempengaruhi kondisi muatan antariksa hingga mempengaruhi magnet Bumi, selanjutnya berdampak pada sistem kelistrikan, transportasi yang mengandalkan satelit navigasi global positioning system (GPS), dan sistem komunikasi yang menggunakan satelit komunikasi dan gelombang frekuensi tinggi (HF), serta dapat membahayakan kesehatan atau kehidupan manusia, misal karena magnet Bumi terganggu, maka alat pacu jantung juga akan terganggu. HP akan error, dan sms bakal ‘kiamat’ betul Dengan skala sebenarnya, saya sketsakan kira2 Badai Matahari itu akan seperti apa. Besar matahari hanya diambil sepersecuilnya, sementara Bumi sangat penuh (meski masih sangat kecil) tampaknya. Bumi saja belum apa-apanya bila dibanding sunspot yang warna hitam2 itu.
Persiapan menuju Kiamat 2012 itu
Dikatakan para ahli bahwa dari Matahari, milyaran partikel alektron sampai ke lapisan ionosfer Bumi dalam waktu empat hari, Dampak dari serbuan dari partikel elektron ini di kutub berlangsung beberapa hari. Selama itu, bisa dilakukan langkah-langkah antisipasi untuk mengurangi dampak yang ditimbulkan.

Mengantisipasi munculnya badai antariksa itu, LAPAN tengah membangun Pusat Sistem Pemantau Cuaca Antariksa Terpadu di pusat Pemanfaatan Sains Antariksa LAPAN Bandung. Objek yang dipantau antara lain lapisan Ionosfer dan geomagnetik, serta gelombang radio. Sistem ini akan beroperasi penuh pada Januari 2009 mendatang.
Langkah antisipasi LAPAN yang telah dilakukan adalah menghubungi pihak-pihak yang mungkin akan terkena dampak dari muncul badai antariksa ini, yakni Dephankam, TNI,Dephub, PLN, dan Depkominfo, serta Pemda.
Saat ini pelatihan bagi aparat pemda yang mengoperasikan radio HF telah dilakukan sejak lama, kini telah ada sekitar 500 orang yang terlatih menghadapi gangguan sinyal radio. PLN harus melakukan sosialisasi ke masyarakat akan adanya pemutusan berkala demi mengurangi dampak badai antariksa ini.
Penerbangan dan pelayaran yang mengandalkan GPS sebagai sistem navigasihendaknya menggunakan sistem manual ketika badai antariksa terjadi dalam memandu tinggal landas atau pendaratan pesawatterbang.
Perubahan densitas elektron akibat cuaca antariksa dapat mengubah kecepatan gelombangradio ketika melewati ionosfer sehingga menimbulkan delay propagasi pada sinyal GPS. Perubahan ini mengakibatkan penyimpangan pada penentuan jarak dan posisi. Selain itu, komponen mikroelektronika pada satelit navigasi dan komunikasi akan mengalami kerusakan sehingga mengalami percepatan masa pakai, sehingga bisa tidak berfungsi lagi.
Saat ini LAPAN telah mengembangkan pemodelan perencanaan penggunaan frekuensi untuk menghadapi gangguan badai matahari tinggi untuk komunikasi radio HF.
Kita berdo’a semoga kita selamat, dunia
Diposting oleh Moch. Aji 5 komentar
Rabu, 18 Maret 2009
Perubahan Iklim/cuaca yang semakin ekstrim

NASA menyatakan bahwa pemanasan global berimbas pada semakin ekstrimnya perubahan cuaca dan iklim bumi. Pola curah hujan berubah-ubah tanpa dapat diprediksi sehingga menyebabkan banjir di satu tempat, tetapi kekeringan di tempat lain. Topan dan badai tropis baru akan bermunculan dengan kecenderungan semakin lama semakin kuat.
Tanpa diperkuat oleh pernyataan NASA di atas-pun Anda sudah dapat melihat efeknya pada lingkungan di sekitar kita. Anda tentu menyadari betapa panasnya suhu disekitar Anda belakangan ini. Anda juga dapat melihat betapa tidak dapat di prediksinya kedatangan musim hujan ataupun kemarau yang mengakibatkan kerugian bagi petani karena musim tanam yang seharusnya dilakukan pada musim kemarau ternyata malah hujan. Anda juga dapat mencermati kasus-kasus badai ekstrim yang belum pernah melanda wilayah-wilayah tertentu di Indonesia. Tahun-tahun belakangan ini kita semakin sering dilanda badai-badai yang mengganggu jalannya pelayaran dan pengangkutan baik via laut maupun udara.
Bila fenomena dalam negeri masih belum cukup bagi Anda, Anda juga dapat mencermati berita-berita internasional mengenai bencana alam. Badai topan di Jepang dan Amerika Serikat terus memecahkan rekor baru dari tahun ke tahun. Anda dapat mencermati informasi-informasi ini melalui media masa maupun internet. Tidak ada satu benua pun di dunia ini yang luput dari perubahan iklim yang ekstrim ini.
Diposting oleh Moch. Aji 1 komentar
Kutub utara di tahun 2012

Baru-baru ini sebuah fenomena alam kembali menunjukkan betapa seriusnya kondisi ini. Pada tanggal 6 Maret 2008, sebuah bongkahan es seluas 414 kilometer persegi (hampir 1,5 kali luas kota Surabaya) di Antartika runtuh.
Menurut peneliti, bongkahan es berbentuk lempengan yang sangat besar itu mengambang permanen di sekitar 1.609 kilometer selatan Amerika Selatan, barat daya Semenanjung Antartika. Padahal, diyakini bongkahan es itu berada di sana sejak 1.500 tahun lalu. “Ini akibat pemanasan global,” ujar ketua peneliti NSIDC Ted Scambos. Menurutnya, lempengan es yang disebut Wilkins Ice Shelf itu sangat jarang runtuh.
Sekarang, setelah adanya perpecahan itu, bongkahan es yang tersisa tinggal 1.950 kilometer persegi, ditambah 5,6 kilometer potongan es yang berdekatan dan menghubungkan dua pulau. “Sedikit lagi, bongkahan es terakhir ini bisa turut amblas. Dan, separo total area es bakal hilang dalam beberapa tahun mendatang,” ujar Scambos.
“Beberapa kejadian akhir-akhir ini merupakan titik yang memicu dalam perubahan sistem,” ujar Sarah Das, peneliti dari Institut Kelautan Wood Hole. Perubahan di Antartika sangat kompleks dan lebih terisolasi dari seluruh bagian dunia.
Antartika di Kutub Selatan adalah daratan benua dengan wilayah pegunungan dan danau berselimut es yang dikelilingi lautan. Benua ini jauh lebih dingin daripada Artik, sehingga lapisan es di sana sangat jarang meleleh, bahkan ada lapisan yang tidak pernah mencair dalam sejarah. Temperatur rata-ratanya minus 49 derajat Celsius, tapi pernah mencapai hampir minus 90 derajat celsius pada Juli 1983. Tak heran jika fenomena mencairnya es di benua yang mengandung hampir 90 persen es di seluruh dunia itu mendapat perhatian serius peneliti.
Diposting oleh Moch. Aji 1 komentar
Film Comet Impact

Sebuah komet menabrak bumi dan menyebabkan tsunami yang dahsyat. Dua ilmuwan NASA berusaha menentukan asal komet tersebut dan bagaimana benda langit tersebut bisa tak terdeteksi. Yang mereka temukan ternyata lebih mengerikan dari bayangan mereka-- batu membara yang menyebabkan tsunami maut tersebut ternyata hanya bagian kecil dari komet yang lebih besar yang kini sedang menuju Bumi. Perkiraan menakutkan yang dibuat kedua ilmuwan tersebut, akankah menjadi kenyataan?
A comet crashes into Earth's atmosphere and causes a devastating tsunami. Two NASA scientists attempt to determine the comet's origin and how it managed to evade their attention. What they discover is far more sinister than either could ever have imagined - the flaming rock that caused the tsunami is merely a tiny fragment of a much larger comet that is now heading directly for the Earth. The nightmare scenario that scientists have long predicted is about to become a terrifying reality.
Directed by: Keith Boak
Cast: James Wilby, Kirsty Mitchell, Cristian Solimeno, James Cosmo, Rowena King
Duration: 98 min
Diposting oleh Moch. Aji 0 komentar
Sabtu, 14 Februari 2009

CAPE CANAVERAL – NASA administrator Mike Griffin is not cooperating with President-elect Barack Obama’s transition team, is obstructing its efforts to get information and has told its leader that she is “not qualified” to judge his rocket program, the Orlando Sentinel has learned.
In a heated 40-minute conversation last week with Lori Garver, a former NASA associate administrator who heads the space transition team, a red-faced Griffin demanded to speak directly to Obama, according to witnesses.
In addition, Griffin is scripting NASA employees and civilian contractors on what they can tell the transition team and has warned aerospace executives not to criticize the agency’s moon program, sources said.
Griffin’s resistance is part of a no-holds-barred effort to preserve the Constellation program, the delayed and over-budget moon rocket that is his signature project.
Chris Shank, NASA’s Chief of Strategic Communications, denied that Griffin is trying to keep information from the team, or that he is seeking a meeting with Obama. He also insisted that Griffin never argued with Garver.
“We are working extremely well with the transition team,” he said.
However, Shank acknowledged Griffin was concerned that the six-member team – all with space policy backgrounds – lack the engineering expertise to properly assess some of the information they have been given.
Garver refused comment about her conversation with Griffin -- and his remark that she is “not qualified” -- during a book-publication party at NASA headquarters last week. Obama’s Chicago office – which has sent similar transition teams to every federal agency – also had no comment.
People close to Garver, however, say that she has confirmed “unpleasant” exchanges with Griffin and other NASA officials. “Don’t worry, they have not beaten me down yet,” she e-mailed a colleague.
And this week, Garver told a meeting of aerospace representatives in Washington that “there will be change” to NASA policy and hinted that Obama would name a new administrator soon, according to participants.
Those who spoke for this article, including a member and staff in Congress, NASA employees, aerospace executives and consultants, spoke only on condition that their names not be used.
Garver’s team is one of dozens of review panels that over the last few weeks have descended on every government agency. Armed with tough questions, they are scrutinizing programs, scouring budgets and hunting for problems that may confront a new president.
Though their job is to smooth the transition between administrations, their arrival also brings a certain level of anxiety, particularly when programs face tough questions, as at NASA.
Said John Logsdon, a George Washington University professor who co-wrote the book honored at the NASA party, "There is a natural tension built into this situation... Mike is dead-on convinced that the current approach to the program is the right one. And Lori’s job is to question that for Mr. Obama. The Obama team is not going to walk in and take Mike’s word for it.”
The Bush White House has pledged cooperation, and many agency leaders have told staff to cooperate fully. Griffin himself sent a memo urging employees “to answer questions promptly, openly and accurately.”
At the same time, he made clear he expected NASA employees to stay on message.
For example, transition-team interviews have been monitored by NASA officials “taking copious notes,” according to congressional and space-community sources. Employees who met with the team were told to tell their managers about the interview.
The tensions are due to the fact that NASA’s human space flight program is facing its biggest crossroads since the end of the Apollo era in the 1970s. The space shuttle is scheduled to be retired in 2010, and the next-generation Constellation rockets won’t fly before 2015.
Nearly four years ago, President Bush brought in Griffin to implement a plan to return astronauts to the moon by 2020 as a prelude to going to Mars. Griffin and his team selected Constellation, with its NASA-designed Ares I rocket and Orion capsule, as cheaper and safer than existing rockets. Constellation – especially Ares 1 -- is the center of what Griffin sees as his legacy to return humans to the frontiers of space.
Griffin has made no secret that he would like to stay on but only, as he recently told Kennedy Space Center workers, "under the right circumstances," including being able to finish Constellation.
But budget problems and technical issues have created growing doubts about the project. Griffin has dismissed these as normal rocket development issues, but they’ve clearly got the transition team’s attention.
When team members arrived three weeks ago, they asked the agency, among other things, to quantify how much could be saved by canceling Ares I. Though they also asked what it would take to accelerate the program, the fact that the team could even consider scrapping the program was enough to spur Griffin and his supporters into action
According to industry officials, Griffin started calling heads of companies working for NASA, demanding that they either tell the Obama team that they support Constellation or refrain from talking about alternatives.
The companies, worried that Griffin may remain and somehow punish them if they ignore his wishes, have by and large complied.
One consultant said that when Garver invited “several” mid-level aerospace executives to speak to the team, their bosses told them not to go and warned that anything said had to be cleared first with NASA because Griffin had demanded it.
Documents and e-mails obtained by the Sentinel confirm NASA’s efforts to coordinate what’s said.
A Dec. 3 e-mail to Constellation contractors from Sandy Coleman, an executive with Alliant Tech Systems, the prime contractor on the Ares I, said that Griffin wanted NASA to pre-review any materials given to the team.
“Phil [McAlister, the NASA contact for the transition team] relayed a request by Mike Griffin that if we plan to provide the Transition Team any reports or studies that were performed under NASA contracts that we provide them a copy first … ,” Coleman wrote.
The e-mail followed two teleconferences set up by Shank and another NASA official, Gale Allen. According to documents produced from the teleconferences, the point was to “to develop a strategy for promoting the continuation of Constellation in the next administration.”
Among the ideas agreed on: tell the team that an Obama White House “could take ownership of the [Constellation] program and ‘re-brand’ it as their own with minor tweaks.”
Another set of talking points, presented during a Nov. 21 teleconference, was called “Staying the Course on Constellation.” Among the points: Ares 1 had been thoroughly studied “and is sound” – and any change would make NASA look bad. “If NASA appears to be wavering by not staying the course … this would cause a loss of public and stakeholder confidence in NASA,” it said.
Shank said that the contractors – not NASA -- had requested the teleconferences. “We do not seek to intimidate at all," he said.
Tensions were on public display last week at the NASA library, as overheard by guests at a book party.
According to people who were present, Logsdon, a space historian, told a group of about 50 people he had just learned that President John F. Kennedy’s transition team had completely ignored NASA.
Griffin responded, in a loud voice, “I wish the Obama team would come and talk to me.”
Alan Ladwig, a transition team member who was at the party with Garver, shouted out: “Well, we’re here now, Mike.”
Soon after, Garver and Griffin engaged in what witnesses said was an animated conversation. Some overheard parts of it.
“Mike, I don’t understand what the problem is. We are just trying to look under the hood,” Garver said.
“If you are looking under the hood, then you are calling me a liar,” Griffin replied. “Because it means you don’t trust what I say is under the hood.
Diposting oleh Moch. Aji 0 komentar
Jumat, 30 Januari 2009
Gerhana Matahari di Indonesia Tahun 2009-2010
Akhirnya, setelah sekian lama, Gerhana matahari akan segera menyapa Indonesia. Tidak tanggung-tanggung, 3 gerhana matahari secara berturut-turut akan melewati Indonesia dalam rentang waktu 2009 - 2010. Sayangnya, tidak semua bagian di wilayah Indonesia dapat melihat fenomena ini. Karena, ketiga gerhana ini cuman melewati bagian barat dan/atau utara indonesia.
Tahun 2009 tercatat ada dua gerhana yang akan melewati Indonesia, yaitu pada tanggal 26 Januari dan 21-22 Juli, sementara itu, gerhana matahari akan kembali menyenggol kita pada tanggal 15 Januari 2010.
Fenomena ini sangat disayangkan untuk dilewatkan, karena gerhana matahari baru akan menyapa kita kembali pada tahun 2016.
1. Gerhana 26 Januari 2009
Yang paling spesial dari ketiganya adalah Gerhana pada tanggal 26 Januari yang jatuh pas di hari libur Imlek. Gerhana ini dapat dilihat oleh hampir seluruh masyarakat Indonesia (Dari Banda Aceh sampai Ambon), beruntunglah mereka yang tinggal di daerah Lampung, Samarinda, dan Teluk betung, karena bulan menutup hampir seluruh bagian matahari. Gerhana ini terjadi pada waktu sore hari sekitaran pukul 3 - 4.
Yang perlu diperhatikan dari jenis gerhana ini adalah jenis gerhana ini adalah gerhana matahari anular (bukan total) artinya ukuran bulan tidak cukup besar untuk menutupi seluruh priringan matahari berbeda dengan gerhana matahari total dimana bulan menutupi seluruh piringan matahari. Jadi, untuk melihatnya, perlu digunakan lensa pelindung mata, serta bagi fotografer, ingat untuk melindungi lensa kameranya sebelum mengabadikan fenomena langka ini.
2. Gerhana Matahari 22 Juli 2009
Gerhana ini cuma dapat dinikmati oleh mereka-mereka yang tinggal di bagian utara Indonesia seperti: Banda Aceh, Jayapura, Manado,
Medan, Padang, Palu, Pekanburu, Pontianak, Samarinda, Sorong, Ternate. Jenis Gerhana ini adalah gerhana Matahari Total, namun di Indonesia, bulan hanya akan menutup sebagian kecil dari matahari. Jika ingin melihat gerhana matahari total ini secara full, anda bisa ke Shanghai, karena disana, Bulan akan menutupi seluruh bagian matahari.
3. Gerhana Matahari 15 Januari 2010
Fenomena alam ini cuman bisa dinikmatin oleh mereka yang tinggal di bagian utara dan barat Indonesia seperti: Balikpapan, Banda Aceh, Tanjungkarang Telukbetung, Bandung, Banjarmasin, Bengkulu, Jakarta, Manado, Medan, Padang, Palembang, Palu, Pekanbaru, Pontianak, Samarinda, Semarang, Surakarta, Yogyakarta. Bagian Timur Indonesia sudah keburu malam ketika bayangan bulan melewati bagian sana.Sama halnya dengan gerhana Juli 2009, bulan cuma akan menutup sebagian matahari saja. Karena pusat jalur Gerhana Matahari ini melewati daerah India dan Cina sana, sehingga di Indonesia cuma kebagian sebagian kecil bayangan dari Bulan.
Diposting oleh Moch. Aji 0 komentar
Minggu, 25 Januari 2009
Pesawat Atlantis

Pesawat Ulang-alik Atlantis (Orbiter Vehicle Designation: OV-104) merupakan salah satu armada wahana antariksa yang dimiliki oleh NASA. Atlantis merupakan pesawat ulang-alik keempat yang dibuat. Menyusul hancurnya Challenger dan Columbia, Atlantis merupakan salah satu dari tiga pesawat ulang-alik yang beroperasi sepenuhnya yang tinggal di dalam armada itu. Dua lagi adalah Discovery dan Endeavour.
Sejarah Operasi
Atlantis telah membuat penerbangannya yang pertama dalam bulan Oktober 1985, melakukan aktivitas-aktivitas militer yang sulit, satu dari lima penerbangan yang sama. Dalam tahun 1989, Atlantis telah mengatur kedudukan dua kuar planet, Magellan dan Galileo, dan dalam tahun 1991, ia telah mengatur kedudukan Observatorium Sinar Gamma Compton.
Penerbangan
Pesawat ulang-alik Atlantis sudah melaksanakan 27 penerbangan, menghabiskan 220,40-hari di angkasa, menyempurnakan 3.468 orbit, dan telah terbang 89.908.732 mil dalam jumlah, seperti pada bulan September 2006.
Diposting oleh Moch. Aji 0 komentar
Senin, 19 Januari 2009
Bisa Jadi Kayak Film Armagedon

Bumi sejak zaman dahulu sering didatangi tamu dari luar angkasa. Baik yang hanya melintas, atau mendarat di permukaan Bumi. Bahkan tamu-tamu itulah yang diduga memicu munculnya kehidupan serta menciptakan ekosistem yang mampu menopang kehidupan hingga kini. Yang kita bicarakan disini bukan makhluk luar angkasa yang turun dari piring terbang atau UFO, melainkan benda langit yang bernama asteroid, meteorit arau komet. Benda-benda langit itulah yang diyakini menciptakan ekosistem di Bumi.
Ribuan meteorit menghujani bumi setiap tahunnya. Hanya saja karena ukurannya amat kecil, meteorit ini sudah hancur terbakar ketika memasuki atmosfir. Sebagian diantaranya mungkin masih tersisa dan jatuh ke Bumi berupa bola berapi. Berita terakhir yang membuat masyarakat panik adalah laporan dari perhimpunan astronomi internasional- IAU, yang mengatakan ada kemungkinan pada tahun 2028, sebuah asteroid besar akan menabrak Bumi.
Laporan IAU tsb, segera menimbulkan kepanikan penduduk di berbagai negara. Sehari kemudian para pakar dari laboratorium propulsi jet -JPL di California membantah laporan tsb. Berdasarkan analisis foto astronomi diperoleh data, bahwa asteroid besar yang diberinama XF 11 itu hanya akan melintasi Bumi pada jarak sekitar 960.000 kilometer. Sebagai perbandingan, jarak antara Bumi dengan Bulan adalah sekitar 380.000 kilometer. Tetapi para ahli astronomi menyebutkan, ancaman terkena jatuhan benda langit semacam itu amat sulit diramalkan. 1. Diakui, selama ini pengamatan dan data mengenai ancaman jatuhnya asteroid, meteorit dan komet ke Bumi, amatlah terbatas. Pada tahun 1995 AS memprakarsai program pengamatan asteroid dekat Bumi-NEAT. Sampai saat ini, program tsb sudah berhasil melacak dan mendata lebih dari 6.000 asteroid baru, 15 diantarnya digolongkan amat dekat dengan Bumi dan 4 diantaranya dikategorikan amat berbahaya.
Apa bahayanya jika sebuah asteroid atau meteorit jatuh ke Bumi ?. Film Deep Impact mungkin mampu menggambarkan betapa dahsyatnya bencana yang ditimbulkan. Atau kejadian nyata pada tanggal 30 Juni tahun 1908, ketika sebuah meteorit berdiameter hanya 60 meter, meledak di ketinggian 15 kilometer di atas hutan di kawasan Tunguska Siberia. Dalam radius 60 kilometer rumah-rumah seolah diguncang gempa hebat. Dan pada radius sekitar 20 kilometer dari pusat ledakan, hutan terbakar dan porak peranda. Atau terciptanya kawah meteorit berdiameter satu kilometer di Arizona AS, yang merupakan dampak dari jatuhnya sebuah meteorit besi berdiameter 100 meter pada 20.000 tahun lalu.
Sejauh ini para ahli juga memperkirakan, musnahnya dinosaurus 65 juta tahun lalu, adalah akibat jatuhnya sebuah asteroid berdiameter 10 kilometer ke semenanjung Yucatan di Mexiko. Dahulu dampaknya tidak mengancam manusia. Karena ketika dinosaurus musnah, manusia samasekali belum ada di Bumi. Sementara 20.000 tahun lalu Arizona adalah kawasan kosong yang tidak dihuni manusia.
Bila perhitungan para ahli meleset, dan asteroid XF 11 yang berdiameter 1,6 kilometer benar-benar jatuh ke Bumi maka bencana besar dalam sekejap akan memusnahkan ratusan juta manusia. Energi ledakan yang dilepaskannya diperhitungkan setara dengan 20 juta kali energi bom atom yang dijatuhkan di Hiroshima. Impak tabrakan akan menyebabkan letusan gunung api, memicu tsunami serta membuat Bumi gelap gulita. Dalam waktu sekejap, umat manusia akan merasa kembali ke zaman batu.
Masalahnya kini adalah, bagaimana meramalkan akan jatuhnya benda langit itu ke Bumi. Mengapa tiba-tiba benda langit itu menyimpang dari jalurnya. Serta bagaimana mencegah agar bencana besar tidak menimpa umat manusia. Untuk itu berbagai program angkasa luar, kini juga dikaitkan dengan pengamatan benda langit dekat Bumi. Berbagai data mengenai perubahan perilakunya juga dicatat secara teliti. Jutaan foto dibuat untuk analisis data.
Asteroid dekat Bumi, biasanya merupakan asteroid yang terpental dan melenceng dari jalur alamiahnya. Di tata surya, sabuk asteroid terletak antara planet Mars dan Yupiter. Akan tetapi bila ada gaya lain dari alam semesta, misalnya ada komet yang melintas atau terjadi tabrakan asteroid, maka beberapa buah asteroid itu lepas dari jalurnya dan boleh jadi memasuki gaya tarik Bumi. Bila obyeknya cukup besar, benda langit ini dapat bertahan, dan kemungkinan jatuh ke Bumi. Bila obyeknya kecil, biasanya habis terbakar di luar angkasa.
Relatif kecilnya asteroid atau meteorit yang memasuki gaya tarik Bumi, menyebabkan seringkali luput dari pengamatan para ahli. Diameter sekitar satu kilometer bagi benda langit adalah relatif kecil bila dibanding dengan satelit atau planet serta bintang yang ukurannya amat besar. Diakui, para ahli astronomi seringkali hanya berhasil melihat jejaknya, bahwa sebuah meteor atau asteroid baru saja melintasi Bumi. Dengan demikian, bila benda langit ini jatuh ke Bumi, para ahli tidak berdaya mencegahnya, karena memang tidak mampu melacaknya.
Diposting oleh Moch. Aji 0 komentar
Senin, 12 Januari 2009
Kata siapa astronomi itu sulit?
Banyak orang yang bertanya, saya memiliki minat di bidang astronomi, tetapi dari mana saya mau mulai? Sebetulnya, menggemari astronomi itu tidaklah sulit. Kenapa tidak sulit? Memangnya untuk menggemari astronomi membutuhkan teleskop? Atau pengetahuan yang ‘wah’? Jawabannya adalah tidak! Untuk menggemari astronomi hanya dibutuhkan beberapa hal sederhana. Yang pertama adalah: Langit malam yang cerah dan penuh gemintang. Kedua: Tentu saja mata untuk memandangi dan menikmati keindahan langit. Dan ketiga: Sedikit saja pengetahuan tentang benda apa yang ada di langit, dan kalau memang belum tahu, peta langit tentu bisa membantu.
Tentu saja, ini bukanlah teori yang sulit untuk diterapkan. Tidak percaya? Dalam suatu kesempatan, penulis sempat berjalan-jalan ke daerah yang terpencil, jauh di Pulau Biak, ujung paling timur-laut Indonesia. Karena tidak berkaitan dengan astronomi, tentulah penulis tidak membawa peta langit ataupun perangkat komputer yang bisa menampilkan peta langit malam untuk lokasi tersebut. Tetapi, syarat pertama telah terpenuhi, yaitu: langit yang cerah! Karena itu, tidak ada ruginya penulis mengamati bintang. Nah, menjelang Matahari terbenam, penulis berjalan-jalan ke pantai. Kenapa ke pantai? Ya tentu saja untuk menikmati Matahari terbenam. Kebetulan, pada saat itu Bulan sedang dalam fase baru, sehingga seandainya memungkinkan, penulis bisa mengamat kondisi yang seperti hilal. Dan demikianlah!
Langit sedang bersahabat, dan dengan berbekal kamera DSLR, maka gambar (serupa) hilal diperoleh! Tidak hanya itu, ketika malam datang, langit begitu cerah, sehingga beberapa obyek teramati secara kasatmata! Jadi dengan sedikit saja pengetahuan, sebutlah, yang mana rasi Orion? Yang mana Taurus? Lalu kalau tahu mereka ada di mana, apa yang istimewa di sana? Paling mudah dan paling menarik tentu saja Pleiades di Taurus. Bila langit sedang cerah, maka kita akan beruntung menemukannya. Sedikit saja bergeser dari situ, ke arah Orion, maka kita akan bisa menemukan nebula Orion. Semakin kita mengetahui objek-objek menarik yang ada di langit, maka semakin banyak yang kita ketahui dan kita nikmati. Oleh karena itu, jangan takut, astronomi itu sebetulnya mudah dan menyenangkan, seperti yang terlihat pada foto-foto berikut.
Diposting oleh Moch. Aji 0 komentar
Selasa, 30 Desember 2008
Penyataan Dr. Edgar Mitchell



Dr. Edgar Mitchell astronaut Amerika dalam misi Apollo 14 dan merupakan orang ke 6 yang berjalan di atas permukaan bulan menyatakan secara resmi bahwa:
UFO dan aliens memang ada.
http://www.news.com.au/heraldsun/sto...51-663,00.html
http://www.dailymail.co.uk/sciencete...-60-years.html
YouTube:
http://au.youtube.com/watch?v=zQbEv0...eature=related
Ini merupakan pernyataan yang sangat berani, karena selama ini kasus UFO dan aliens ditutupi pemerintah A.S.
Dr. Edgar Mitchell juga menyatakan bahwa Aliens sudah sering melakukan kontak dengan manusia bumi.
Sekarang, apabila Dr. Edgar Mitchell berkata jujur dan UFO serta Aliesn memang ada, apa persiapan kita untuk hari depan?
Saya rasa sudahnya saatnya orang Indonesia menghentikan ketamakannya, korupsi dan mimpi akan kekuasaan, berebut menjadi pejabat yang kemudian hanya terbekuk di penjara oleh KPK karena kasus korupsi.
Bagaimana pendapat anda?
Diposting oleh Moch. Aji 2 komentar
Kamis, 25 Desember 2008
Apophis
Apophis:2036 End of the World
Anak usia 13 Tahun Koreksi Hitungan NASA! Menarik bukan? Seorang anak berusia 13 tahun yang setingkat SMP berhasil mengkoreksi perhitungan tabrakan asteroid Apophis. Tabrakan yang menurut NASA awalnya diperkirakan hanya 1:45000 menjadi naik perbandingannya karena apophis diperkirakan akan menabrak salah satu satelit yang mengelilingi Bumi.
Perhitungan Nico Marquardt menunjukan pada tanggal 13 Oktober 2008, saat melakukan pertemuan terdekat dengan Bumi, Apophis akan memiliki kemungkinan menabrak 1 dari 40000 satelit yang ada dan mengalami perubahan lintasan orbit. Perubahan tersebut akan kembali terjadi tahun 2029 saat mendekati Bumi karena kembali Apophis kemungkinan akan mengalami tabrakan dengan satelit. Akibatnya pada tahun 2036, pada saat pertemuan dengan Bumi kemungkinan Apophis akan menabrak Bumi menjadi 1:450 atau seratus kali lebih tinggi dari perkiraan NASA.
Benarkah? Sampai saat ini belum ada pemberitahuan resmi dari NASA.
Tunggu Informasi selanjutnya!!!
Di sisi lain, menurut cosmos4u yang ditulis Daniel Fischer seorang astronom Jerman, berita tentang meningkatnya kemungkinan tabrakan Apophis tidaklah benar. Hasil pembicaraan antara cosmos4u dan pakar NEO Don Yeoman menyatakan kalau pihak NASA belum mengadakan kontak dengan Nico Marquardt, dan kisah yang ditampilkan di berbagai tabloid dan koran di seluruh dunia ini merupakan cerita absurd atau bisa dikatakan ini merupakan sebuah hoax.
Menurut Don, sepanjang pertemuan terdekat antara Apophis dan Bumi pada tahun 2029, Apophis akan mendekati Bumi pada jarak 38900 km, atau berada dalam jarak geosynchronous yakni 42240 km. Tapi bagaimanapun, asteroid ini akan melintasi sabuk ekuatorial pada jarak 51000km. Ini berarti saat melintasi sabuk ekuatorial, ia akan berada di luar jarak geosynchronous. Ketidakpastian posisi Apophis saat mendekati Bumi diperkirakan sekitar 1500 km, dengan demikian Apophis tidak akan dan tidak bisa mendekati satelit Bumi. Apophis tidak akan melintasi bidang orbit Bulan pada jarak orbit Bulan.
Seringkali berita ditulis hanya untuk terlihat bombastis tanpa melakukan pengecekan pada sumber yang benar. Apophis adalah salah satu asteroid yang terus menerus berada dalam pengawasan NASA, karena memang berpotensi menabrak Bumi. Apophis yang juga dikenal sebagai 2004 MN4 sampai akhir tahun 2004 masih menjadi asteroid dengan kemungkinan tabrakan paling tinggi di tahun 2029. Namun awal tahun 2005 data radar menunjukan penurunan kemungkinan. Dan dalam beberapa bulan kemudian, kemungkinan terjadinya tabrakan pada tahun 2036 juga semakin merosot dan pada akhirnya mencapai angka perbandingan 1:45000.
Diposting oleh Moch. Aji 3 komentar
Rabu, 24 Desember 2008



Bagaimana jika gambar diatas benar-benar terjadi pada Bumi kita?
Apa menurut Anda?
How if picture above really happened our earth?
What according to you? What you say?
Diposting oleh Moch. Aji 5 komentar
Senin, 22 Desember 2008
NASA Gunakan Satuan Metrik ke Bulan
Untuk segala keperluan misi ke Bulan, Badan Antariksa AS (NASA)
memutuskan untuk menggunakan satuan metrik (meter). Hal ini akan
memudahkan kerja sama dengan lembaga antariksa lainnya mengingat
metrik merupakan standar internasional.
Pernyataan yang dirilis NASA, Senin (8/1), menyebutkan bahwa satuan
metrik akan digunakan di seluruh unit operasi peluncuran misi ke
Bulan. Perubahan ini membuat setiap peralatan dan sistem yang
digunakan NASA memiliki satu standar.
Masih dalam pernyataan tersebut, NASA mengakui bahwa sistem metrik
sebenarnya telah digunakannya secara parsial sejak tahun 1990-an.
Standar satuan Inggris (inci, kaki, mil) masih tetap digunakan pada
beberapa misi dan beberapa proyek menggunakan keduanya. NASA
menggunakan standar satuan metrik dan Inggris di Stasiun Antariksa
Internasional (ISS).
Penggunaan standar ganda dipicu kegagalan misi wahana Mars Climate
Orbiter pada tahun 1999. Saat itu, kontraktor yang mengerjakannya
menggunakan standar Inggris sementara NASA menghitung dengan satuan
metrik .
"Saya kira NASA sedikit keras kepala terhadap lembaga antariksa
lainnya di masa lalu, sehingga ini menjadi isyarat niat baik untuk
merangkul semuanya pada misi ke Bulan," ujar Jeff Volosin, kepala
pengembangan strategi direktorat sistem misi eksplorasi NASA. Saat
keputusan tersebut diumumkan di depan 13 lembaga antariksa lainnya,
seluruh delegasi meyambutnya dengan penuh antusias.
Dengan satu standar pada misi ke Bulan, Rusia tidak perlu melakukan
konversi satuan agar peralatannya bisa dipakai di peralatan buatan
AS. Selain itu, penyatuan standar memudahkan komunikasi, misalnya
saat menentukan seberapa jauh kendaraan penjelajah bergerak saat
melakukan proyek penelitian ilmiah.
Secara informal, NASA juga sedang mendiskusikan kemungkinan
penggunaan protokol internet dalam sistem komunikasinya. Alasannya,
hal tersebut akan memudahkan lembaga antariksa yang lebih kecil atau
perusahaan swasta untuk memperoleh informasi mengenai misi di Bulan.
"Kami telah mengetahui bagaimana berkomunikasi melalui internet.
yang lebih kecil hambatannya," tandas Volosin.
Diposting oleh Moch. Aji 2 komentar
Desain Terbaru Roket Untuk ke Bulan

HUNSTSVILLE, RABU - Desain terbaru roket yang akan dipakai untuk mengirimkan astronot ke Bulan berukuran lebih besar dari versi sebelumnya. Badan antariksa AS NASA memamerkan desain roket yang diberi nama Ares V itu di Pusat Ruang Angkasa Marshall, Huntsville, Alabama, AS, Rabu (25/6) waktu setempat.
Panjang roket tersebut 6 meter lebih panjang daripada desain sebelumnya. Selain itu, roket juga terdiri dari enam tingkat atau ditambahkan satu tingkat. Para insinyur NASA juga memperbesar ukuran dua roket pendorong agar memuat bahan bakar lebih banyak dan mengangkut beban lebih berat.
Dengan perubahan desain, panjang roket Ares V berubah dari rencana awal 108,3 meter menjadi 114 meter. Roket tersebut sanggup mengangkut kapsul berisi empat orang astronot, sebuah kendaraan pendarat di Bulan, dan peralatan pendukung kehidupan selama misi. Suatu saat,
Ares V juga dipakai untuk mengirim logistik seberat 78.300 kilogram dalam sekali peluncuran saat stasiun antariksa di Bulan telah dibangun. Roket ini juga menjadi basispengembangan kendaraan ulang alik yang akan dikirim untuk misi ke Mars.
Pembuatan roket ini akan dimulai tahun 2010 begitu operasional seluruh pesawat ulang alik dipensiunkan.
Diposting oleh Moch. Aji 0 komentar
Kekurangan dana, misi NASA ke mars ditunda
WASHINGTON... Keinginan manusia untuk mengetahui keadaan Planet Mars, agar suatu hari nanti dapat menjadi tempat kedua setelah Bumi, terpaksa harus tertunda. Pasalnya, NASA yang berniat mengirimkan misi ke Mars pada tahun 2009, harus mengurungkan niatnya.
Badan Antariksa Amerika Serikat terpaksa menunda meluncurkan robot yang dilengkapi dengan sinar laser untuk mengetahui permukaan batu disana, sampai dengan tahun 2011. Oleh NASA, ada 10 problem berbeda yang harus dibenahi dalam misi kali ini. Salah satu permasalahan yang paling mendasar adalah, motor penggerak yang membuat robot Mars Science Laboratory ini mampu bergerak dan berjalan di permukaan Mars mengalami kerusakan dan belum bisa bekerja secara maksimal.
"Motor penggerak tersebut sangat penting. Sebab, dapat membuat robot bergerak secara leluasa pada cuaca dingin," jelas Anggota Nasa Michael Griffin, seperti yang diberitakan Associated Press, Jumat (5/12/2008).
"Masalah lainnya, belum maksimalnya sistem komputer yang menggunakan tenaga matahari," sambungnya lagi.
Masalah dana juga menjadi batu sandungan bagi misi ini. Pasalnya, untuk mengembangkan robot selama dua tahun saja sudah menelan dana sampai USD1,6 miliar. Padahal, misi ini membutuhkan tambahan dana lagi setidaknya USD2,3 miliar.
Misi ini tergolong sangat penting bagi NASA agar dapat melihat kemungkinan adanya kehidupan lain di sana. Dalam misi beberapa tahun lalu, diketemukan sebuah kehidupan sel mikroba. Jika kehidupan mikroba tersebut benar adanya, bukan tidak mungkin manusia pun dapat bertahan hidup di Mars.
Diposting oleh Moch. Aji 0 komentar
Kehilangan Kontak, Misi ke Mars Dihentikan

LOS ANGELES - Penelitian mengenai kemungkinan adanya kehidupan di Planet Mars sepertinya akan tertunda untuk sementara waktu. Ini dikarenakan, Robot Phoenix Mars Lander yang diberi tugas mengamati topografi di Mars dinyatakan dihentikan karena sudah mengalami putus kontak.
Pernyataan ini diungkapkan oleh Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) yang mengatakan bahwa misi robot ke Mars resmi dihentikan. Robot Phoenix yang mengambil tugas ini telah kehilangan kontak sejak 2 minggu lalu. Dan menurut Nasa, peluang Phoenix untuk kembali bertugas sangat kecil.
"Phoenix sudah tidak mengirimkan sinyal ke pusat komando sejak 2 November lalu. Kami masih terus berusaha melakukan kontak, tetapi kemungkinan itu kecil," jelas Manajer Pengembangan Phoniex Mars Lander Barry Goldstein, seperti yang dilansir dari Reuters, Selasa (11/11/2008).
Misi ini sendiri sebenarnya sudah diluncurkan sejak satu tahun lalu. Karena terus mengalami perbaikan, robot berkaki tiga ini baru benar-benar beroperasi dalam jangka 6 bulan ini. Tugas utama dari Phoenix sendiri untuk meneliti kandungan tanah di planet merah tersebut. Oleh Nasa, tanah di Mars diduga menyimpan kandungan es, yang disebut-sebut berpeluang menciptakan kehidupan di sana. Sampai saat ini Phoenix sudah mengirimkan 25,000 foto topografi, serta beberapa sampel tanah di Mars.
Pihak Nasa sendiri belum memastikan pengganti Phoenix yang dikirim ke Mars, ini disebabkan mereka masih berharap pada Phoenix agar bisa melakukan kontak kembali. Paling tidak, mereka bisa mengetahui keberadaan terakhir Phoenix serta penyebab keruskannya.
"Kami akan terus bekerja agar bisa menjawab semua pertanyaan tentang adanya kehidupan, atau tidaknya kehidupan, di Planet Mars," pungkas Barry.
Diposting oleh Moch. Aji 0 komentar
Rencana Pindah Ke Mars

Konferensi PBB Mengenai Perubahan Iklim di Poznan, Polandia, berakhir sepekan lalu. Tidak ada perubahan komitmen pengurangan emisi karbon. Pemanasan bumi akibat emisi karbon diprediksi menyebabkan Bumi tak mampu lagi menyangga kehidupan pada akhir abad ini.
Ke mana kita akan mengungsikan kehidupan (terutama manusia) ini? Pencarian ini antara lain yang kemudian menjadi obyek ketika penjelajahan ruang angkasa menjadi semakin ”menjanjikan” sejak pendaratan Neil Armstrong 10 Juli 1967 di permukaan Bulan.
Penjelajahan terus berlanjut bukan hanya ke Bulan, tetapi merambah planet-planet lain dalam galaksi Bimasakti.
Program observasi National Aeronautics and Space Administration (Badan Aeronautika dan Ruang Angkasa Nasional/NASA) Amerika Serikat Mars Reconnaissance Orbiter (MRO) telah berakhir dan hasilnya dipaparkan dalam jurnal ilmiah Science, Jumat (19/12).
Hasil dari misi penjelajahan MRO yang pertama tersebut telah berhasil menemukan bukti- bukti akan adanya mineral-mineral yang penting untuk mendukung kehidupan. Bukan hanya mineral, bahkan jejak-jejak yang membuktikan adanya air di permukaan Mars juga terekam di beberapa lokasi.
Penemuan akan bukti-bukti tersebut mengindikasikan bahwa pernah ada mikroba—sebagai bentuk awal kehidupan—hidup di Mars ketika planet tersebut kondisinya lebih basah (baca: mengandung air) dibandingkan saat ini. Penelitian lebih lanjut akan dilakukan MRO tahap kedua yang akan berlangsung selama dua tahun.
Penemuan yang cukup melegakan ini karena ternyata Mars tidaklah ”seganas” yang pernah dipikirkan semula.
Bukti akan adanya air di Mars diketahui saat ditemukan adanya parit-parit yang terbentuk oleh aliran air, kemungkinan berasal dari danau purba.
Bukti akan adanya air juga muncul ketika ada ditemukan jenis-jenis mineral yang hanya bisa terbentuk jika terjadi interaksi dengan unsur air.
Persoalan yang masih ada dan masih harus terus dicari dan dibuktikan adalah seberapa banyak air yang pernah ada di Mars tersebut, dan seberapa besar dukungannya terhadap kehidupan mikroba atau kehidupan yang primitif (metabolismenya sederhana)? Jawabannya mungkin belum akan ditemukan dalam waktu dekat.
Di sisi lain, bukti-bukti tersebut mengisyaratkan bahwa di Mars pernah ada periode ketika air membentuk tanah liat yang disusul periode kering saat Mars kaya akan unsur garam dan unsur airnya bersifat asam. Kondisi ini amat tidak cocok untuk mendukung kehidupan.
Persoalannya, kondisi di Mars tidaklah serupa antara satu wilayah dan wilayah lainnya. Oleh karena masih ditemukan sejumlah unsur karbon yang mengindikasikan wilayah itu tidak bersifat asam-unsur asamnya rendah. Karbon amat mudah terurai jika bertemu unsur asam. Unsur karbon juga ditemukan pada batuan meteorit yang berasal dari Mars.
”Kehidupan yang primitif mungkin menyukainya. Tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin, dan tidak terlalu asam. Sebuah tempat yang ’tepat’,” ujar Bethany Ehlmann sarjana dari Brown University di Providence.
Unsur karbon yang telah memberikan harapan tersebut ditemukan MRO di daerah yang disebut Nili Fossae, sekitar 667 kilometer panjang dan berada di tepian Isidis-kolam yang telah kering, dan di dekat batuan yang terekspos di tepi lembah kawah. Jejak serupa ditemukan di Terra Tyrrhena dan Libya Montes.
Sejumlah peneliti memiliki teori yang berbeda-beda tentang terbentuknya karbon. Misalnya, ada yang menyebutkan air tanah (Mars) terangkat ke permukaan melewati batuan yang mengandung olivin di permukaan dan terpapar pada hujan atau danau kecil. Teori tersebut mempertebal keyakinan bahwa di Planet Merah itu pernah ada air di permukaannya.
Berkeliling
Perjalanan MRO berkeliling planet telah membawanya menemukan bukti-bukti bahwa sebagian besar wilayah dataran tinggi di bagian selatan planet yang luas itu dialiri air dengan kondisi lingkungan yang bervariasi pada 4,6 miliar-3,8 miliar tahun yang lalu.
Bukti-bukti itu ditunjukkan dengan penemuan batuan filosilikat yang tersebar meluas di belahan selatan planet. Batuan filosilikat ini mengandung unsur besi, magnesium atau aluminium, mica, dan kaolin.
”Dalam filosilikat, atom-atomnya tertata secara berlapis dan semua memiliki unsur air atau kandungan hidrogen dan oksigen yang membentuk suatu struktur kristal,” tutur anggota tim MRO, Scott Murchie, dari John Hopkins University.
Lapisan batuan yang mengandung kristal air tersebut berada di lapisan batuan vulkanik yang belum terlalu tua. Di bagian kawah, misalnya di Valles Marineris, di belahan selatan planet, terpapar lapisan lempung purba dan berbagai mineral lain.
”Ini seperti sebuah perjalanan ke lapisan batuan di dasar Grand Canyon,” ujar Murchie merujuk pada salah satu fenomena geologis yang terbesar.
Variasi tanah lempung dan berbagai mineral yang ditemukan di Mars tersebut mengindikasikan adanya variasi kondisi lingkungan di Mars.
Di belahan utara Mars ditemukan batuan dengan kandungan berbeda, yaitu sulfat yang mengindikasikan lingkungan yang lebih kurang mendukung kehidupan dibandingkan selatan.
Nah, mungkin suatu hari nanti kita bisa mengungsi ke belahan selatan Mars? Atau... maukah kita menyelamatkan kapal kehidupan kita yang bernama Bumi...?
Diposting oleh Moch. Aji 4 komentar
Astronom Deteksi Objek Sejenis Komet Halley

Menggunakan teleskop yang dibawa wahana SOHO (Solar and Heliospheric Observatory), para astronom berhasil mendeteksi sebuah komet yang mirip Komet Halley. Sebab, komet tersebut mengelilingi Matahari dengan lintasan yang teratur.
Komet yang diberi nama P/2007 R5 (SOHO) tergolong komet langka yang diklasifikasikan dalam komet periodik. Dari ribuan komet yang terdeteksi, hanya 190 yang sudah dipastikan masuk golongan ini. Objek paling terkenal yakni Komet Halley, yang terakhir dapat dilihat dengan dari Bumi pada tahun 1986 dan akan berulang setiap 76 tahun.
Dibandingkan Komet Halley, komet yang baru ditemukan memiliki jarak lintasan orbit yang jauh lebih pendek yakni hanya empat tahun. Keberadaannya pertama kali terlihat pada September 1999 dan kembali terlihat pada September 2003. Pada tahun 2005, Sebastian Hoenig dari Institut Radioastronomi Max Planck, Jerman memprediksi kalau keduanya merupakan objek yang sama.
Pemikiran Hoenig mirip dengan metode yang dipakai Edmond Halley. Pada tahun 1682, Halley mempelajari dua komet yang terlihat pada tahun 1531 dan 1607. Untuk menguji apakah pendapatnya benar, Hoenig menghitung jarak orbit keduanya. Analisis tersebut terbukti benar saat komet yang sama terlihat kembali 11 September 2007 lalu dan diperkirakan akan muncul kembali pada September 2011. .
P/2007 R5 (SOHO) diperkirakan berdiameter 330 hingga 650 meter. Tidak seperti komet lainnya, komet tersebut tidak memiliki ekor atau lapisan gas dan debu di sekitar inti yang disebut koma. Namun, saat berada pada jarak terdekat dari Matahari sekitar 7,9 juta kilometer, ia memendarkan cahaya yang jutaan kali lebih terang seperti halnya komet-komet lainnya.
"Kemungkinan inti kometnya sudah hilang karena sesuatu hal," ujar Karl Battams, ketua program penelitian komet SOHO. Komet tersebut mungkin telah melepaskan sebagain besar lapisan es dan sisa materialnya tidak cukup untuk membentuk koma atau ekor.
SOHO merupakan observatorium ruang angkasa yang awalnya ditujukan untuk mengamati Matahari. Ia berada di orbit yang disebut Bumi-Matahari L1 yang memebuatnya mengitari Matahari bersama Bumi dalam satu garis lurus. Wahana yang dikembangkan bersama antara badan antariksa AS (NASA) dan badan antariksa Eropa (ESA) diluncurkan pada tahun 195 dan telah menyelesaikan misi utama selama 2 tahun.
Sejak misi diperpanjang, SOHO sudah mendeteksi sekitar 1350 komet yang diperkirakan sebagai komet periodik dan baru P/2007 R5 (SOHO) yang dipastikan sebagai komet periodik.
Diposting oleh Moch. Aji 0 komentar
UFO berkunjung ke Indonesia !!!

JAKARTA (Suaramedia) Sebuah benda asing atau biasa dikenal unidentified flying object (UFO) terlihat di Jakarta. Fenomena ini terekam dalam sebuah kamera yang dikirimkan pemirsa RCTI pada Senin 8 Desember kemarin.
Video berdurasi singkat tersebut menggambarkan sejumlah titik cahaya dan bergerak beliuk-liuk di langit malam Jakarta. Dalam video tersebut juga menggambarkan, cahaya tersebut bergerak memutar dan berpindah dari satu tempat ke tempat lain.
Namun salah seorang peneliti Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional, Sri Loka Prabotosari saat dikonfirmasi redaksi RCTI, belum bisa memastikan apa benda asing tersebut.
Berdasarkan penelusuran okz, Rabu (10/12/2008), penampakan UFO bukanlah yang pertama. Sebelumnya,
6 Januari lalu salah seorang pengguna internet bernama hasbrothers mengirimkan video rekaman yang diduga sebagai UFO.
Rekaman berjudul 'Ufo Jakarta??' tersebut kini beredar di youtube. Hasbrothers diduga diambil menjelang senja. Pasalnya, benda berukuran bundar tersebut terbang dari satu tempat ke tempat lain dengan latar belakang awan memerah.
Salah seorang warga Jakarta melihat adanya benda asing atau biasa dikenal unidentified flying object (UFO) yang terbang di atas langit Petukangan, Jakarta Selatan.
Warga Petukangan, Jufri (38), sempat merekam fenomena tersebut melalui kamera handphone dan diunggah ke situs youtube.
di Jalan Pesanggrahan 3 Perumahan Pesanggrahan Permai, Jufri menceritakan fenomena tak biasa itu dilihatnya saat dia bersama enam orang kawannya sedang membakar daging sate kurban di Petukangan Selatan RT 11 RW 05, Senin 8 Desember.
"Senin malam, kira-kira pukul 21.45 WIB, saya melihat benda aneh berwarna oranye seperti sinar," kata Jufri,
Dia dan beberapa kawan lantas memperhatikan ke arah langit. Mereka pun mulai berspekulasi mengenai adanya benda asing di udara yang dikenal dengan UFO.
"Teman saya bilang kalau itu balon gas, terlalu jauh remote-nya. Sinar dari benda itu kelap-kelip berwarna oranye," tandas Jufri.
Selang 3 sampai 5 menit kemudian, lanjut Jufri, ada lagi sekitar 8 yang berjalan beriringan. "Tak lama, ada lima lagi yang datang dan terlihat jelas sekali. Kayak iring-iringan," kata warga yang beralamat di RT 11 RW 05 Petukangan Selatan, Jakarta.
Namun dalam waktu 15 menit. Sinar-sinar tersebut tiba-tiba menghilang. Fenomena ini tak disaksikan Jufri sendiri. Dia bersama enam orang temannya sedang membakar sate kurban.
Saat melihat adanya benda aneh di langit Jakarta ini, Jufri segera merekam dengan kamera handphonenya. Pria yang sehari-hari bekerja sebagai kameramen di sebuah production house dan party organizer ini mengunggah hasil rekamannya malam itu ke situs youtube. (okz/kem) http://www.suaramedia.com
Diposting oleh Moch. Aji 0 komentar
.jpg)


